Banyak Jalan Menuju Roma!


14 Agustus 2020 adalah hari pengunguman UTBK. Hari yang ditunggu-tunggu banyak peserta, termasuk aku.

Sedikit cerita nih, sebelum aku kasih tau hasilnya. Sehari sebelum pengunguman UTBK, aku ikut tes seleksi masuk PTN lewat jalur ujian tulis. Ujiannya waktu itu dilaksakan secara online dan aku dapat sesi siang. Sebelum mulai itu aku udah ada perasaan nggak enak, karena dapat kabar kalau sesi pagi ternyata servernya error dan mau nggak mau harus nunggu kelanjutan kabar ujian ulangnya. Untungnya yang sesi siang ini nggak dibatalkan.

Waktu udah mulai join zoom, suaraku nggak masuk dan nggak bisa didengar sama pengawasnya. Puji Tuhan sih, ada alternatif dan aku sama pengawas masih bisa komunikasi dengan baik. Nah, udah absen dan segala macamnya, akhirnya mulailah tesnya. First impressionku waktu itu adalah kaget. Total soal 139 dengan waktu dua jam. Jujur aja nih, aku nggak begitu punya persiapan yang matang. Diawal-awal sih lancar jaya dan aku bisa ngerjain soalnya. Tapi ditengah-tengah ngerjain terjadilah error dari servernya dan aku panik. Aku belom ngerjain setengah soal aja udah error. Parahnya ketika udah bisa ngerjain lagi, waktuku kebuang sia-sia di errornya itu dan aku sama sekali nggak dapat tambahan waktu.

Akhirnya aku berusaha buat secepat kilat nyelesaiin soal-soal itu, tapi tetap aja. Waktu akhirnya abis dan 20 soalku masih kosong. Aku pasrah, mencoba buat nggak emosional, tapi akhirnya pecah juga.

Karena merasa kurang maksimal, aku sendiri jadi takut kalau aku nggak lolos seleksi UTBK. Jujur aja, selama persiapan UTBK sampai hari pelaksanaan UTBK itu aku juga kurang maksimal usahanya. Rasa takut, gelisah, pokoknya yang negatif-negatif itu langsung take over.

Akhirnya setelah tenang dan dapat beberapa motivasi dari orang terdekatku, aku nguatin diri lagi. Apapun hasilnya nanti, aku tetep harus terima dan take responsibility. Besok harinya, jam 3 sore aku akhirnya memberanikan diri buat buka hasil tanpa nunggu-nunggu. Dan hasilnya?

Aku nggak lolos.

Apa yang aku tabur, maka itu yang aku tuai. Sedih? Jelas. Tapi, above all, aku nggak se-stress ketika selesai ngerjain utul. Yang tadinya aku takut, sekarang sedikit bisa lebih rileks. Aku kemudian ngasih kabar ini ke keluargaku dan kami sama-sama mulai diskusi untuk kedepannya gimana.

Aku awalnya takut, kalau tahun ini nggak bisa kuliah. Aku memang sempat mikir buat gap year, tapi setelah dipikir ulang rasanya aku nggak akan kuat buat gap year. Jadi, aku bakal terus usaha lagi sampai bisa kuliah tahun ini. Masih ada hasil ujian tulis, masih ada universitas swasta.

Dan kalau memang pada akhirnya aku belum diterima dimanapun, berarti tahun ini bukan tahunku.Yang jelas putus asa bukan jalannya. Masih ada harapan, masih banyak jalan menuju Roma. Dan selalu yakin, kalau Tuhan pasti buka koridor yang lain.

Buat teman-teman yang juga belum lolos, jangan berhenti berjuang yah. Tetap percaya dan selalu minta tuntunan, juga berdoa agar diberikan yang terbaik.

Buat yang lolos, congratulation! You did it! Stay humble dan semoga kuliahnya lancar. Pokoknya selalu inget, kita yang kerja keras, tapi pencapaian tetap milik Tuhan.

Komentar